Jumat, 13 April 2012
Rabu, 28 Maret 2012
Kesehatan jasmani dan rohani
Sehat jasmani rohani adalah dasar. Perubahan yang sempurna adalah yang dilandasi kesehatan keduanya
Selasa, 31 Januari 2012
Memperhatikan. & merenungi
النظر والفكر
Memperhatikan & Berfikir
النظر لغة الانتظار ، وتقليب الحدقة نحو المرئي ، والرحمة ، والتأمل. وفي الاصطلاح : الفكر المؤدي إلى علم أو ظن . قال إمام الحرمين في الشامل " : الفكر هو انتقال النفس من المعاني انتقالا بالقصد ، وذلك قد يكون بطلب علم أو ظن ، فيسمى نظرا . وقد لا يكون كأكثر حديث النفس ، فلا يسمى نظرا بل تخيلا وفكرا . والفكر أعم من النظر . فالحاصل أن قصد الناظر الانتقال من أجزاء الحد ، وقال في البرهان " : حقيقة النظر تردد في أنحاء الضروريات ومراتبها ، وقال فيما بعد : عندنا مباحثة في أنحاء الضروريات ومراتبها وأساليبها ، وقد اعترف فيما بعد أن الضروريات تنقسم إلى هاجم عليه ، ويسمى ضروريا . وإلى ما يحتاج إلى فكر ، فيسمى نظريا . قيل : وهذا نقض لقوله : إن كلها ضرورية . وأما حصر النظر في الضروريات فلا يستقيم ، فإنه قد يكون في غير الضروريات ضرورة ، ثم هو منقوض بالشك [ ص: 62 ] وقال القاضي أبو بكر : النظر هو الفكر الذي يطلب به من قام به علما أو ظنا ، وهو مطرد في القاطع والظني . واحترز بقوله : " به " من بقية الصفات ، فإنه لا يطلب بها بل عندها ، فيكون شرطا للطلب . كذا حكاه عنه الآمدي واستحسنه ، وأجاب عما اعترض به عليه ، ثم اختار خلافه ، وليس لشيء واحد حدان مختلفان . وقال الأستاذ أبو منصور : هو الفكر في الشيء المنظور فيه طلبا ، لمعرفة حقيقة ذاته أو صفة من صفاته ، وقد يفضي إلى الصواب إذا رتب على وجهه ، وقد يكون خطأ إذا خولف ترتيبه . وقال الغزالي في الاقتصاد " : إذا أردت إدراك العلم المطلوب فعليك وظيفتان : إحداهما ، إحضار الأصلين أي : المقدمتين في ذهنك . وهذا يسمى فكرا . والآخر يسوقك إلى التفطن . لوجهة لزوم المطلوب من ازدواج الأصلين ، وهذا يسمى طلبا . قال : فلذلك من جرد التفاته إلى الوظيفة الأولى جد النظر بأنه الفكر ، ومن جرد التفاته إلى الثانية قال : إنه طلب علم أو غلبة ظن . قال : ومن التفت إلى الأمرين جميعا قال : إنه الفكر الذي يطلب به من قام به علما أو غلبة ظن . قالوا : ولا يستعمل إلا فيما يمكن أن يحصل [ ص: 63 ] له صورة في القلب ، ولذلك ورد ( تفكروا في آلاء الله ولا تفكروا في الله ) . وقال بعض الأذكياء : الفكر مقلوب الفرك غير أن الفكر لا يستعمل إلا في المعاني . وقال القاضي أبو يعلى في كتابه المعتمد الكبير " : النظر والاستدلال معنى غير الفكر والروية ، بل يوجد عقبه . خلافا للمعتزلة في قولهم : إنهما بمعنى واحد ، ولنا أن الإنسان يفكر أولا في الجسم . هل هو قديم أو حادث ؟ وما دام مفكرا فهو شاك ، ثم ينظر بعد ذلك في الدليل ، وحينئذ يلزم أن يكون النظر والفكر متغايرين . قال الروياني في البحر " : والفرق بين الجدال والنظر وجهان : أحدهما : أن النظر : طلب الصواب ، والجدال : نصرة القول . والثاني : النظر : الفكر بالقلب والعقل ، والجدال : الاحتجاج باللسان
، والله أعلم .
Kata " انظروا " diulang 3X artinya perhatikanlah (kalian)
انظروا ٣ مرات. انظروا كيف كان عاقبة المكذبين الأنعام: ١١
انظروا ماذا في السموات والارض. يونس: ١٠١
انظروا الى ثمره. . الأنعام : ٩٩
Kata " فانظروا ) diulang 5X artinya maka perhatikanlah ( kalian)
فانظروا. ٥مرات فانظروا كيف كان عاقبة المكذبين. ال عمران: ١٣٧، النحل: ٣٦
عاقبة المجرمين، النمل: ٦٩
بدا الخلق، العنكبوت: ٢٠
كان عاقبة الذين من قبل كان اكثرهم مشركين، الروم: ٤٢
لننظر كيف تعملون. يونس: ١٤
ولتنظر. نفس ، الحشر: ١٨
Kata " تتفكرون " diulang 3X artinya kalian berfikir
تتفكرون. ٣ مرات.
Kata " يتفكرون " diulang 10 X artinya mereka berfikir
يتفكرون. ١٠ مرات
Kata " تتفكروا" artinya berfikirlah (kalian)
تتفكروا. مرة
يتفكروا . مرتين، الأعراف ١٨٤، الروم ٨
تفكروا في خلق الله/في آيات الله/ في آلاء الله ولا تتفكروا في الله
Sabtu, 28 Januari 2012
Syukur
Syukur
Setiap detik berdetak, kita tiada pernah terlepas dari nikmat-Nya dan setiap helaan nafas, senantiasa ada nikmat yang tidak akan pernah kita mampu menghitungnya, meski pohon-pohon menjadi penanya dan air laut menjadi tintanya. Firman Allah :
Nä39s?#uäur `ÏiB Èe@à2 $tB çnqßJçGø9r'y 4 bÎ)ur (#rãès? |MyJ÷èÏR «!$# w !$ydqÝÁøtéB 3 cÎ) z`»|¡SM}$# ×Pqè=sàs9 Ö$¤ÿ2 ÇÌÍÈ
"Dan dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim [14] : 34)
Demikianlah, Allah dengan segala kemahakuasaan-Nya, memberikan segala kebutuhan hamba-Nya. Meski seringkali, tidak sesuai dengan apa yang kita minta. Sehingga, dengan sedikit rasa kesal kita pun berusaha mengingkarinya. Realita ini, telah disebutkan oleh Allah dalam al-Qur’an sebagaimana firman-Nya dalam surat An-Nahl ayat 112 :
z>uÑur ª!$# WxsWtB Zptös% ôMtR$2 ZpoYÏB#uä Zp¨ZͳyJôÜB $ygÏ?ù't $ygè%øÍ #Yxîu `ÏiB Èe@ä. 5b%s3tB ôNtxÿx6sù ÉOãè÷Rr'Î/ «!$# $ygs%ºsr'sù ª!$# }¨$t6Ï9 Æíqàfø9$# Å$öqyø9$#ur $yJÎ/ (#qçR$2 cqãèuZóÁt ÇÊÊËÈ
"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”.
Realitanya, perumpamaan ini telah berulang kali terjadi, semenjak umat-umat yang hidup bersama nabi dan rasul terdahulu. Kemuliaan hidup dan kemegahan perabotan yang mereka miliki, tidak lantas menjadikan mereka bersyukur, akan tetapi justru membutakan mata hati yang berujung kepada sikap kufur sehingga mengakibatkan murka Allah SWT, sebagaimana firman-Nya :
ö/x.ur $uZõ3n=÷dr& Nßgn=ö6s% `ÏiB Abös% öNèd ß`|¡ômr& $ZW»rOr& $ZöäÍur ÇÐÍÈ
"Berapa banyak umat yang telah kami binasakan sebelum mereka, sedang mereka adalah lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap di pandang mata". (QS. Maryam [19] : 74).
Makna Syukur
Kata “syukur” dalam berbagai bentuknya, disebutkan sebanyak 75 kali di dalam al-Qur’an. Kata syukur merupakan kata serapan dari bahasa Arab sebagai bentuk masdar “sukrun” (شُكْرٌ) dari kata kerja “syakarâ-yasykuru” ( شَكَرَ- يَشْكُرُ) yang berarti pujian atas kebaikan atau terpenuhinya sesuatu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata syukur diartikan sebagai rasa terima kasih kepada Allah, dan untunglah (menyatakan lega, senang, dan sebagainya). Sementara itu, dalam bahasa keseharian masyarakat awam, kita sering menggunakan kata syukur sebagai bentuk dari ekspresi kegembiraan atas pemberian ataupun anugerah yang diterima, baik yang diterima langsung dari Allah ataupun yang datang melalui perantara manusia, sehingga istilah itu kemudian berkembang dan identik dengan nama sebuah acara, seperti syukuran atau tasyakuran.
Ahmad Ibnu Faris dalam bukunya Maqayis Al-Lughah menyebutkan empat arti dasar dari kata syukur yaitu; pertama, pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh, yakni merasa ridha dan puas sekalipun hanya sedikit, di dalam hal ini para pakar bahasa menggunakan kata syukur untuk kuda yang gemuk namun hanya membutuhkan sedikit rumput; kedua, kepenuhan dan kelebatan seperti pohon yang tumbuh subur dilukiskan dengan kalimat “syakarat asy-syajarah” (شكرة الشجرة) ; ketiga, sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon (parasit); keempat, pernikahan atau alat kelamin. Makna dasar tersebut dapat juga diartikan sebagai penyebab dan dampaknya, sehingga kata “syukur” mengisyaratkan “siapa yang ridha dengan sesuatu yang sedikit, maka ia akan memperoleh sesuatu yang banyak, lebat dan subur”.
Menurut al-Isfahani dalam bukunya Al-Mufradat fii Gharaib al-Qur’an menuliskan bahwa kata syukur mengandung arti gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan. Dalam konteks ini, syukur dimaknai sebagai hati yang terbuka karena menyadari nikmat Allah yang telah diterimanya. Sebaliknya mereka yang mengingkarinya dikatakan sebagai kufur (menutupi nikmat yang telah diterima)
Cara bersyukur
Ada banyak cara untuk mengekspresikan rasa syukur. Bahkan tidak jarang di suatu daerah tertentu telah menjadi sebuah budaya, tradisi ataupun ritual yang diwariskan secara turun-temurun. Meski, terkadang kita juga menyaksikan adanya sedikit penyimpangan ketika kita pandang dari sisi Syariah. Maka, sebagai seorang muslim, yang ditangannya ada al-Qur’an dan as-Sunnah, tidak pantas kiranya, kita sekonyong-konyong menjustifikasi bahwa yang mereka lakukan adalah sesat, karena pada dasarnya tuduhan-tuduhan itu hanya akan menjauhkan jarak antara sesama muslim, menorehkan luka di hati, yang akhirnya menimbulkan konflik horizontal yang tiada berkesudahan.
Alangkah baiknya kalau kita memberikan alternative kegiatan yang lebih menonjolkan nuansa keislaman dan mengikis sedikit demi sedikit unsur-unsur yang kita nilai bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Diantara amaliah sebagai ungkapan ekspresi kesyukuran, dapat kita realisasikan dalam tiga bentuk, sebagai berikut :
Pertama, bersyukur dengan hati, yaitu mengakui dan menyadari sepenuhnya bahwa segala nikmat yang diperoleh adalah berasal dari Allah SWT dan tak ada seorangpun selain Allah SWT yang dapat memberikan nikmat itu. Sebab, hati adalah central dari semua sikap dan perilaku, dan syukur turut melekat dan tumbuh di dalamnya. Untuk mengetes apakah hati kita telah dipenuhi rasa syukur, maka perhatikan apa yang bergejolak dalam hati kita, ketika tetangga membeli mobil baru. Jika hati kita merasa nyaman, lapang, dan turut berbahagia, maka berarti kita telah bersyukur, akan tetapi kalau hati kita merasa tidak nyaman, dada terasa sempit, timbul iri, dan muncul buruk sangka kepadanya, maka berarti hati kita masih belum bersyukur.
Kedua, bersyukur dengan lisan, yaitu mengucapkan secara jelas ungkapan rasa syukur itu dengan kalimat "al-hamdulillah" (segala puji bagi Allah), setiap kali kita menerima anugrah dan nikmat dari Allah. Dalam hal ini, perlu adanya pembiasaan terutama semenjak masa anak-anak. Karena syukur adalah merupakan sikap yang tidak dapat tumbuh begitu saja. Perlu proses pembelajaran yang lama dan lingkungan kondusif yang mendukungnya.
Ketiga, bersyukur dengan amal perbuatan, yaitu memberdayakan anggota tubuh untuk hal-hal yang baik dan memanfaatkan nikmat tersebut sesuai dengan Syariat Islam. Dalam hal ini, banyak sekali aktivitas yang dapat kita lakukan. Bagi mereka yang diberikan kelebihan harta, maka sebagai bentuk kesyukurannya adalah dengan berinfak, bersedekah, berzakat kepada orang-orang fakir dan dhuafa yang membutuhkan, membangun tempat ibadah, dan menghidupkan lembaga-lembaga sosial; bagi mereka yang memiliki waktu senggang, maka, selazimnya memperbanyak membaca al-Qur’an dan menghafalkannya, serta bersilaturahim; bagi mereka yang diberikan jabatan dan kekuasaan, maka selazimnya menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan rakyatnya. Bagi mereka yang diberikan keluasan ilmu dan pengetahuan, maka sebagai bentuk kesyukurannya adalah dengan cara mengamalkan ilmu yang mereka miliki, menjadi juru penerang yang bijaksana bagi diri sendiri dan orang lain.
Demikianlah, syukur atas nikmat Allah adalah sebagai bentuk penghargaan kepada diri sendiri, karena meskipun kita mengingkarinya hal ini tidak mengurangi sedikitpun kemahabesaran Allah. Sebagaimana firman-Nya:
`tBur öà6ô±t $yJ¯RÎ*sù ãä3ô±o ¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9 ( `tBur txÿx. ¨bÎ*sù ©!$# ;ÓÍ_xî ÓÏJym ÇÊËÈ
“…dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS. Luqman [31] : 12)
Maka, dalam setiap tindakan yang kita lakukan mengandung konsekwensi yang harus kita terima dan pertanggungjawabkan. Ketika datangya sebuah nikmat menjadikan kita bersyukur, maka secara otomatis Allah akan menambakan nikmat-Nya. Akan tetapi, ketika nikmat yang telah diberikan justru menjadikan lupa diri dan melupakan Allah, maka sebagai konsekwensinya adalah dicabutnya nikmat tersebut oleh Allah (QS. Ibrahim [14] : 7). Wallahu a’lam bishshawab.
Sabar
Sabar
Sabar adalah pilar kebahagiaan dan sarana untuk menggapai kesuksesan. Dengan kesabaran itulah kita mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan; terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Allah berfirman :
(#qãZÏètFó$#ur Îö9¢Á9$$Î/ Ío4qn=¢Á9$#ur 4
“Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45).
Sabar adalah sebuah perilaku yang mudah diucapkan oleh lisan akan tetapi sulit dilaksanakan dalam kehidupan. Aspek kesabaran sangat luas, lebih luas dari apa yang selama ini dipahami oleh kebanyakan masyarakat mengenai kata sabar itu sendiri. Meski terkadang dalam hal-hal tertentu sabar seakan nampak batasnya, tetapi faktanya, ketika kita dihadapkan kepada suatu masalah yang menurut kita adalah berat, akan tetapi orang lain menghadapinya dengan santai dan mudah menyelesaikan permasalahan tersebut. Maka, ini berarti bahwa batas dari sabar adalah tergantung kepada subjek yang menjalankan kesabaran itu sendiri.
Demikianlah, sabar merupakan sebuah “indikasi” keimanan, yang bermakna bahwa tanpa kesabaran, iman terhapus dari hati. Iman merupakan pembenaran terhadap dasar-dasar agama dan akan menumbuhkan amal saleh, maka iman memiliki dua unsur, yaitu yakin dan sabar. Yakin adalah pengetahuan yang pasti terhadap dasar-dasar agama yang berpangkal dari al-Qur’an, sedangkan sabar adalah realisasi dari keyakinan. Bila sesuatu maksiat diketahui kerugiannya sementara itu kepatuhan pada perintah Allah SWT diketahui manfaatnya, maka upaya untuk menjahui maksiat dan mengamalkan perintah itu dilaksanakan atas dasar kesabaran hati.
Makna Sabar
Sabar merupakan sebuah kata yang teradopsi dari bahasa Arab “shabara” (صبر), dan sudah menjadi kata yang baku dalam bahasa Indonesia, yang berarti menahan dan mencegah. Sedangkan menurut istilah, sabar adalah menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.
Menurut al-Mubarak, sabar ialah pengakuan hamba kepada Allah atas apa yang menimpanya, mengharapkan ridha Allah semata dan pahala-Nya. Kadang-kadang seseorang bertahan dengan gigih dengan menguatkan diri, dan tidak terlihat dari dia kecuali kesabaran. Dengan demikian, tidak ada orang yang bisa disebut sabar, jika sikapnya menolak atau mengelak berdiri bersama permasalahan yang tidak mengenakkan di hati.
Maka, orang yang sabar selalu memancarkan kehangatan bagi orang lain karena ia senantiasa pasrah pada Allah dalam kondisi apa pun. Jika ditimpa musibah, dia tidak akan larut atau meratapi musibah yang menimpanya. Sedangkan jika diberi kesenangan atau kenikmatan, dia tidak akan lupa diri dan kufur nikmat kepada Allah.
Sabar juga tidak identik dengan kepasrahan. Justru orang yang pasrah dalam satu sisi, mengindikasikan ketidaksabaran dalam berusaha, berjuang dan berdoa. Maka, sebagai seorang muslim yang dihadapannya ada al-Qur’an dan as-Sunnah, sabar harus senantiasa menyertai sepanjang mengarungi kehidupan dalam suka maupun duka sampai ruh berpisah dari jasad. Demikianlah anjuran Allah dalam firman-Nya :
÷É9ô¹$#ur y7|¡øÿtR yìtB tûïÏ%©!$# cqããôt Næh /u Ío4rytóø9$$Î/ ÄcÓÅ´yèø9$#ur tbrßÌã ¼çmygô_ur ( wur ß÷ès? x8$uZøtã öNåk÷]tã ßÌè? spoYÎ Ío4quysø9$# $u÷R9$# ( wur ôìÏÜè? ô`tB $uZù=xÿøîr& ¼çmt7ù=s% `tã $tRÌø.Ï yìt7¨?$#ur çm1uqyd c%x.ur ¼çnãøBr& $WÛãèù ÇËÑÈ
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi/ 18 : 28).
Sabar memiliki tiga unsur yaitu, ilmu, hal dan amal. Yang dimaksud ilmu disini adalah pengetahuan atau kesadaran bahwa sabar itu mengandung kemaslahatan dalam agama dan memberi manfaat bagi seseorang dalam menghadapi segala problematika kehidupan. Pengetahuan yang demikian seterusnya menjadi milik hati. Keadaan hati yang memiliki pengetahuan disebut hal. Kemudian hal tersebut terealisasikan dalam tingkah laku. Terwujudnya hal dalam tingkah laku inilah yang disebut dengan amal. Hubungan antara ketiga hal tersebut laksana sebatang pohon kayu. Ilmu adalah batangnya, hal sebagai cabangnya, dan amal menjadi buahnya.
Dalam hal menjalani kesabaran, manusia terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu;
Pertama, orang yang sanggup mengalahkan hawa nafsunya, karena ia mempunyai daya juang dan kesabaran tinggi; Kedua, orang yang kalah oleh hawa nafsunya, tetapi karena kesabarannya lemah, maka ia kalah; Ketiga, orang yang mempunyai daya tahan terhadap dorongan nafsu, tetapi suatu ketika ia kalah karena besarnya dorongan nafsu. Meskipun demikian, ia bangun lagi dan terus tetap bertahan dengan sabar atas dorongan nafsu tersebut.
Macam-macam sabar
Sabar adalah akhlak yang mulia. Akhlak yang menghiasi para nabi dan rasul serta orang-orang shalih dalam menunaikan tugas dakwah mereka. Tiada pahala yang lebih tinggi dari sabar kecuali kenikmatan surga yang telah menanti.
Dalam kaitannya dengan sabar, secara umum para ulama membaginya menjadi tiga macam, sebagaimana yang dituliskan oleh Ibnul Qayyim dalamnya Madarijus Shalikin, yaitu sabar dalam menunaikan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menahan diri dari bermaksiat kepada Allah dan sabar dalam menghadapi ujian. Dari ketiga macam sabar tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
Pertama, sabar dalam menunaikan ketaatan kepada Allah.
Sebagai seorang muslim, tentunya kita menyadari tugas pokok kita hidup di dunia, yakni menghambakan diri kepada Allah dengan tulus. Dalam melaksanakan tugas penghambaan ini, tentunya bukan berarti tanpa halangan dan rintangan. Disinilah sabar itu berperan sebagai benteng yang kokoh agar tugas penghambaan ini berjalan dengan baik dan benar sesuai dengan koridor syari’at yang telah ditetapkan.
Kedua, sabar dalam menahan diri dari maksiat kepada Allah.
Yang dimaksud disini adalah kekuatan untuk mencegah diri terhadap melakukan segala perkara yang terlarang oleh Syari’at, tidak menjerumuskan diri melakukan hal-hal yang dilarang karena bisikan nafsu lawwamah (angkara murka). Karena sesungguhnya nafsu lawwamah adalah tipu daya setan, dan teman sejawat yang buruk akan senantiasa memerintahkan dan menyeret seseorang untuk berbuat kemaksiatan. Oleh karenanya, kekuatan kesabaran jenis ini mempengaruhi tindakan seorang hamba dalam meninggalkan segenap kemaksiatan.
Ketiga, sabar dalam menghadapi musibah.
Bagi orang muslim, musibah dapat dire ke dalam bentuk ujian sebagai konsekwensi dalam rangka peningkatan kualitas keimanan dan peringatan atas pelanggaran yang dilakukan. Sedangkan bagi orang-orang kafir musibah yang menimpa adalah merupakan azab sebagai balasan atas keingkaran dan keengganan mereka seruan yang disampaikan oleh para utusan Allah.
Maka, dengan datangnya musibah yang menimpa diri seorang muslim, Allah telah membukakan pintu untuk merenungi berbagai faedah dan kenikmatan Allah yang diperolehnya dari musibah tersebut, sehingga dirinya pun berpindah dari derajat bersabar atas musibah yang menimpa menuju derajat bersyukur dan ridha atas musibah tersebut. Wallahu a’lam bishshawab.
Umat ini, umat yang satu
Umat ini, umat yang satu
Pada awalnya, manusia hidup rukun, bersatu dalam satu agama, sebagai satu keluarga. Tetapi setelah mereka berkembang biak dan memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Maka, timbullah berbagai kepercayaan dan keyakinan yang menyebabkan perpecahan. Hal ini sebagaimana firman Allah :
$tBur tb%x. â¨$¨Y9$# HwÎ) Zp¨Bé& ZoyÏmºur (#qàÿn=tF÷z$$sù 4
“Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih…,” (QS. Yunus [10] : 19)
Maka dari itu, untuk menyelesaikan perselisihan yang timbul, Allah mengutus rasul-Nya yang membawa wahyu dan untuk memberi petunjuk kepada mereka. Sebagaimana firman-Nya :
tb%x. â¨$¨Z9$# Zp¨Bé& ZoyÏnºur y]yèt7sù ª!$# z`¿ÍhÎ;¨Y9$# úïÌÏe±u;ãB tûïÍÉYãBur tAtRr&ur ãNßgyètB |=»tGÅ3ø9$# Èd,ysø9$$Î/ zNä3ósuÏ9 tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# $yJÏù (#qàÿn=tF÷z$# ÏmÏù 4
“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan….,” (QS. Al-Baqarah [2] : 213)
Diantara perselisihan yang muncul di permukaan bumi ini yang disebabkan perbedaan pandangan atau keyakinan umat, misalnya perselisihan antara Yahudi dan Nasrani mengenai Ibrahim, orang-orang Yahudi berasumsi bahwa Ibrahim adalah keturunan Yahudi, sedangkan orang-orang Nasrani beranggapan bahwa Ibrahim adalah seorang Nasrani. Maka, untuk menyelesaikan perselisihan tersebut kemudian Allah SWT menurunkan Al-Qur’an yang menerangkan bahwa Ibrahim adalah seorang yang hanif (lurus, condong kepada kebenaran) lagi berserah diri kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya. (QS. An-Nahl [16] : 120-122).
Selain itu, perselisihan antar umat yang lain adalah perselisihan tentang Isa. Orang-orang Yahudi mendustakannya dan menuduh ibunya, Maryam, berbuat zina. Sedangkan al-orang Nasrani menjadikannya sebagai sesembahan dan anak Tuhan. Maka, kemudian Allah mengutus rasul-Nya, Muhammad, yang diwahyukan kepadanya Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan Isa dengan kalimat-Nya dan ditiupkan ruh dari-Nya, agar perselisihan tersebut berakhir.
Akan tetapi, sampai hari ini, perselisihan itu terus-menerus terjadi sehingga menimbulkan konflik yang terus berkepanjangan. Masing-masing pihak terus saja bersikukuh bahwa diri mereka yang paling benar. Tidak ada yang mau mengalah meskipun dihadapan mereka telah ada bukti nyata dari Allah SWT. Oleh karena mereka telah termakan oleh bujuk rayu syetan yang hendak menyesatkan mereka. Sehingga laknat Allah telah menanti mereka. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Qur’an :
$£Js9ur öNèduä!%y` Ò=»tGÏ. ô`ÏiB ÏYÏã «!$# ×-Ïd|ÁãB $yJÏj9 öNßgyètB (#qçR%x.ur `ÏB ã@ö6s% cqßsÏFøÿtGó¡t n?tã tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. $£Jn=sù Nèduä!$y_ $¨B (#qèùttã (#rãxÿ2 ¾ÏmÎ/ 4 èpuZ÷èn=sù «!$# n?tã úïÍÏÿ»s3ø9$# ÇÑÒÈ
“Dan setelah datang kepada mereka Al-Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (QS. Al-Baqarah [2] : 89)
Makna Umat
Kata ummat terambil dari bahasa Arab dari kata “amma-yaummu” yang berarti menuju, menumpu, dan meneladani. Dari akar yang sama, lahir antara lain kata um yang berarti "ibu" dan imam yang maknanya "pemimpin"; karena keduanya menjadi teladan, tumpuan pandangan, dan harapan anggota masyarakat.
Dalam buku Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur'an, kata ummat dijelaskan bahwa kata ini didefinisikan sebagai semua kelompok yang dihimpun oleh sesuatu, seperti agama, waktu, atau tempat yang sama, baik penghimpunannya secara terpaksa maupun atas kehendak mereka. Secara tegas Al-Quran dan hadits tidak membatasi pengertian umat hanya pada kelompok manusia. Hal ini sebagaimana firman Allah :
$tBur `ÏB 7p /!#y Îû ÇÚöF{$# wur 9ȵ¯»sÛ çÏÜt Ïmøym$oYpg¿2 HwÎ) íNtBé& Nä3ä9$sVøBr& 4
“Dan tidaklah binatang-binatang yang ada di bumi, dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya kecuali umat-umat juga seperti kamu…” (QS. Al-An'am [6]: 38).
Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda:
“Semut (juqa) merupakan umat dan umat-umat (Tuhan).” (HR. Muslim).
Ikatan persamaan apa pun yang menyatukan makhluk hidup manusia atau binatang seperti jenis, suku, bangsa, ideologi, atau agama, dan sebagainya, maka ikatan itu telah menjadikan mereka satu umat. Bahkan Nabi Ibrahim sendirian yang menyatukan sekian banyak sifat terpuji dalam dirinya, disebut oleh Al-Quran sebagai "umat" (QS Al-Nahl [16]: 120), dari sini beliau kemudian menjadi imam, yakni pemimpin yang diteladani.
Kata ummat dalam bentuk tunggal terulang lima puluh dua kali dalam Al-Quran yang hakekatnya bermakna himpunan. Al-Quran memilih kata ini untuk menunjukkan antara lain "himpunan pengikut Nabi Muhammad SAW (umat Islam)", sebagai isyarat bahwa ummat dapat menampung perbedaan kelompok-kelompok, betapapun kecil jumlah mereka, selama masih pada arah yang sama, yaitu Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya :
¨bÎ) ÿ¾ÍnÉ»yd öNä3çF¨Bé& Zp¨Bé& ZoyÏmºur O$tRr&ur öNà6/u Âcrßç7ôã$$sù ÇÒËÈ
“Sesungguhnya umatmu ini (agama tauhid) adalah umat (agama) yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS Al-Anbiya' [21]: 92).
Dalam kata "umat" terselip makna-makna yang cukup dalam. Umat mengandung arti gerak dinamis, arah, waktu, jalan yang jelas, serta gaya dan cara hidup. Untuk menuju pada satu arah, harus jelas jalannya, serta harus bergerak maju dengan gaya dan cara tertentu, dan pada saat yang sama membutuhkan waktu untuk mencapainya. Al-Quran surat Yusuf (12): 45 menggunakan kata umat untuk arti waktu. Sedangkan surat Al-Zukhruf (43): 22 untuk arti jalan, atau gaya dan cara hidup.
Umat ini berkelas karena takwanya
Berbicara tentang manusia bahwa merupakan umat yang satu, tentunya memori kita akan langsung tertuju kepada petikan khutbah Rasulullah SAW ketika pelaksanaan haji wada sebagai berikut : “Wahai manusia! Sesungguhnya Tuhan kalian itu satu, dan sesungguhnya kalian berasal dari satu bapak. Kalian semua dari Adam dan Adam terjadi dari tanah. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian semua di sisi Tuhan adalah orang yang paling takwa. Tidak sedikit pun ada kelebihan bangsa Arab dari yang bukan Arab, kecuali dengan takwa..."
Dari petikan khutbah diatas, ada sesuatu yang menarik untuk kita telisik bahwa manusia adalah berasal dari bapak yang sama, yakni Adam yang diciptakan dari tanah. Sehingga tidak berlakulah teori evolusi yang dikemukan oleh Darwin bahwa manusia adalah berasal dari kera. Memang, bila kita perhatikan dari sisi lahiriah sepintas lalu ada perbedaan baik dari segi ukuran tubuh, atau warna kulit akan tetapi perbedaan tersebut tidak lebih karena menyesuaikan dengan tempat dimana mereka berada. Karena ketika sudah terjadi proses pembauran mereka mampu beradaptasi dengan kondisi-kondisi yang lain. Maka dari itu, perbedaan warna kulit dan ukuran fisik seseorang tidak dapat mempengaruhi tingkat kemuliaannya. Justru yang dapat menjadi ukuran adalah tingkat ketakwaannya yang tercermin dari karakter dan tingkah lakunya. Seseorang dikatakan bagus secara fisik tetapi berperilaku menyimpang dari kaidah dan hukum syariat yang berlaku, maka secara otomatis akan menjatuhkan derajat kemanusiaannya. Allah SWT berfirman :
¨bÎ)ur ÿ¾ÍnÉ»yd óOä3çF¨Bé& Zp¨Bé& ZoyÏnºur O$tRr&ur öNà6/u Èbqà)¨?$$sù ÇÎËÈ
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (QS. Al-Mukminun [23] : 52)
Ayat di atas menyatakan bahwa pengikat kesatuan umat adalah takwa dan ibadah. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa mewujudkan kesatuan umat adalah kewajiban seluruh kaum muslimin secara akidah maupun ibadah. Maka, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa umat ini adalah umat yang satu yaitu satu akidah dan satu syariah, yakni Islam yang telah disempurnakan oleh Allah. Wallahu a’lam bishshawab.
Toleransi
Toleransi
Kehidupan umat manusia di muka bumi ini sepertinya tidak dapat terlepas dari sebuah sikap yang bernama toleransi. Ia telah menjadi sebuah budaya yang mengakar di tengah masyarakat, bukan hanya dalam masyarakat muslim akan tetapi juga tengah gencar disuarakan oleh masyarakat di luar Islam. Bahkan, akhir-akhir ini toleransi menjadi sebuah topic yang hangat dibicarakan di berbagai media massa ditengah maraknya issue social sebagai akar dari terjadinya konflik horizontal yang melibatkan berbagai lapisan dan elemen masyarakat, bukan hanya orang dewasa akan tetapi sudah menyentuh di level anak-anak dan remaja sehingga menyebabkan semakin buramnya potret toleransi di negri ini. Ironisnya, ada juga oknum penguasa atau penegak hukum yang turut serta memperkeruh suasana dengan cara mengambil keuntungan dari konflik yang tengah terjadi dengan berpihak kepada yang lebih banyak memberikan fulus dan keuntungan materi lainnya. Dan yang lebih aneh lagi, untuk sekedar merumuskan undang-undang tentang toleransi dan penanganan masalah konflik social ini, beramai-ramailah pejabat belajar dulu ke luar negeri. Padahal, di negeri ini toleransi telah menjadi sebuah budaya dan tradisi yang berkembang dari sejak nenek moyang kita jauh sebelum negeri ini berdiri mengingat negeri ini terdiri atas berbagai macam ras dan suku yang masing-masing memiliki keanekaraman budaya dan tradisi.
Sebagai seorang muslim yang dihadapannya ada al-Qur’an dan as-Sunnah, kurang etis kiranya jika harus pergi jauh-jauh ke luar negeri bila hanya sekedar mencari bahan materi tentang toleransi dan pemecahan masalah konflik yang tengah marak terjadi. Bukankah Allah SWT dengan segala kemahakuasan-Nya telah menurunkan al-Qur’an sebagai pintu solusi?
Ironisnya, sebagai seorang muslim kita sering dikotomi oleh budaya dan ajaran orang lain di luar Islam. Hegemoni barat sering kali menggiring opini kita kearah pemikiran yang bersifat liberal dan sekuler sehingga kita dengan bangga mengagung-agungkan budaya barat yang terkesan lebih manusiawi dan humanis, padahal bila kita cermati, itu semua hanya kamuflase yang dibuat-buat. Faktanya, sampai detik ini, kita sering mendengar berita tentang pelarangan pemakaian jilbab dan pembangunan menara masjid di berbagai Negara barat. Inikah yang disebut dengan toleransi?
Berbicara masalah toleransi, berarti kita sedang berbicara tentang salah satu doktrin Islam yang menjadi sebuah ciri dan kharakteristiknya. Bila sejenak kita menyempatkan diri untuk membaca Al-Qur’an mencari tentang toleransi, niscaya akan kita mendapati betapa al-Qur’an telah mengupasnya dengan sangat baik dan mudah dipahami. Kemudian apabila kita menyempatkan diri juga untuk membaca sirah nabawi, betapa beliau adalah seorang yang diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia yang menjadi rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Anbiya’ [21] : 107) dan faktanya telah tergambar dengan jelas bagaimana sikap Rasulullah SAW ketika memperlakukan penganut Yahudi dan Nasrani serta para kafir Dzimmi dengan penuh kasih sayang dan sangat manusiawi, tanpa memaksa sedikitpun mereka untuk memeluk agama Islam. Demikian halnya para sahabat dan para salafus shalih sesudahnya; sebagaimana Shalahuddin al-Ayyubi setelah menakhlukkan Baitul Maqdis di Palestina tidak dengan serta merta membinasakan penduduk penganut Nasrani dan Yahudi akan tetapi justru malah melindungi mereka dengan penuh kasih sayang.
Makna Toleransi
Toleransi atau dalam bahasa Arab disebut sebagai as-samahah adalah konsep modern untuk menggambarkan sikap saling menghormati dan saling bekerjasama di antara kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda baik secara etnis, bahasa, budaya, politik, maupun agama. Toleransi dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama, dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya. Istilah toleransi juga digunakan dengan menggunakan definisi "kelompok" yang lebih luas, misalnya partai politik, orientasi seksual, organisasi masyarakat (ormas), lembaga social masyarakat (LSM), Yayasan, lembaga, forum, majelis, dan berbagai macam organisasi masyarakat lain yang bersifat massive atau yang berbasis massa.
Islam dan Toleransi
Toleransi dalam Islam adalah otentik dan telah menjadi jati diri. Al-Qur’an telah menjamin bahwa tidak ada paksaan dalam agama (QS. Al-Baqarah [2]: 256). Karena pemaksaan kehendak kepada orang lain untuk mengikuti agama kita adalah bukan sikap Islam. Sejarah peradaban Islam telah menghasilkan kegemilangan sehingga dicatat dalam tinta emas oleh sejarah peradaban dunia sampai hari ini dan insya Allah sampai pada masa yang akan datang.
Menurut ajaran Islam, toleransi bukan saja terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap alam semesta, binatang, dan lingkungan hidup. Dengan makna toleransi yang luas semacam ini, maka toleransi antar-umat beragama dalam Islam memperoleh perhatian penting dan serius. Apalagi toleransi beragama adalah masalah yang menyangkut eksistensi keyakinan manusia terhadap Allah. Masalah toleransi adalah merupakan masalah yang begitu sensitif, primordial, dan mudah membakar konflik sehingga menyedot perhatian besar dari Islam.
Namun, toleransi beragama menurut Islam bukanlah untuk saling melebur dalam keyakinan. Bukan pula untuk saling bertukar keyakinan di antara kelompok-kelompok agama yang berbeda itu. Yang dimaksud dengan toleransi disini adalah dalam tataran interaksi social (hubungan antar sesama). Jadi, ada batas-batas bersama yang boleh dan tidak boleh dilanggar. Inilah esensi toleransi dimana masing-masing pihak diharapkan mampu mengendalikan diri dan menyediakan ruang untuk saling menghormati keunikannya masing-masing tanpa merasa terancam keyakinannya maupun hak-haknya.
Sebagai bukti bahwa Islam telah mengenal toleransi, dapat kita temukan dalam al-Qur’an, surat Al-Kafirun yang merupakan surat Makkiyah, meskipun ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa turun pada periode Madinah. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa, surat Al-Kafirun adalah surat baraa’ (penolakan) terhadap seluruh amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik, dan memerintahkan agar kita ikhlas dalam setiap amal ibadah kita kepada Allah, tanpa ada sedikitpun campuran, baik dalam niat, tujuan maupun bentuk dan tata caranya. Karena setiap bentuk percampuran disini adalah sebuah kesyirikan, yang tertolak secara tegas dalam konsep aqidah dan tauhid Islam yang murni.
Meskipun pada dasarnya, kita diperbolehkan untuk berinteraksi dengan orang-orang kafir dalam berbagai bidang kehidupan umum, sebagai contoh ketika kita memiliki orang tua yang memaksa kita untuk menyekutukan Allah, maka sebagai sikap toleran kepada orang tua, kita diajarkan untuk tidak menuruti ajakan tersebut dengan cara yang sopan dan tetap mempergauli keduanya dengan baik (QS. Luqman [31]: 15) atau kita diajarkan untuk tetap berlaku baik dan berbuat adil kepada setiap anak Adam apapun agama dan keyakinannya selama mereka tidak memerangi akidah dan hal-hal yang berkenaan dengan keyakinan kita (QS. Al-Mumtahanah [60]: 8)
Lebih lanjut disebutkan bahwa sebab turunnya (asbabun nuzul) surat Al-Kafirun adalah bahwa, setelah melakukan berbagai upaya untuk menghalang-halangi dakwah Islam, orang-orang kafir Quraisy akhirnya mengajak Rasulullah SAW berkompromi dengan mengajukan tawaran bahwa mereka bersedia menyembah Tuhan-nya Rasulullah SAW selama satu tahun jika Rasulullah SAW juga bersedia ikut menyembah tuhan-tuhan mereka selama satu tahun. Maka Allah sendiri yang langsung menjawab tawaran mereka itu dengan menurunkan surat ini (HR. Ath-Thabrani, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas ra).
Secara umum, surat al-Kafirun memiliki dua kandungan utama. Pertama, ikrar kemurnian tauhid, khususnya tauhid uluhiyah (ibadah). Kedua, ikrar penolakan terhadap semua bentuk dan praktek peribadatan kepada selain Allah, yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Adapun sikap toleransi begitu kental terasa dalam akhir ayat yang mungkin telah juga familiar di telinga kita ”Lakum diinukum waliya diin” (bagimu agamamu dan bagiku agamaku) yang mengandung pengertian sebagai berikut :
1. Secara umum Islam memberikan pengakuan terhadap realita keberadaan agama-agama lain dan penganut-penganutnya;
2. Islam membenarkan kaum muslimin untuk berinteraksi dengan ummat-ummat non muslim itu dalam bidang-bidang kehidupan umum;
3. Islam memberikan ketegasan sikap ideologis berupa baraa’ atau penolakan total terhadap setiap bentuk kesyirikan akidah, ritual ibadah ataupun hukum, yang terdapat di dalam agama-agama lain;
4. Islam tidak membenarkan percampuran dengan agama-agama lain dalam bidang-bidang akidah, ritual ibadah dan hukum;
5. Kaum muslimin dilarang keras ikut-ikutan penganut agama lain dalam keyakinan akidah, ritual ibadah dan ketentuan hukum agama mereka;
6. Ummat Islam tidak dibenarkan melibatkan diri dan bekerja sama dengan penganut agama lain dalam bidang-bidang yang khusus terkait dengan keyakinan akidah, ritual ibadah dan hukum agama mereka.
Demikianlah, toleransi telah menjadi salah satu doktrin Islam yang telah menjadi ciri khas dan kharakteristiknya sebab Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Islam tidak mengajarkan segala bentuk terror dan intimidasi kepada sesama muslim bahkan kepada orang-orang non muslim sekalipun selama mereka tidak memerangi, memusuhi atau mencampuri akidah kita. Hal ini telah menjadi sebuah tradisi yang berakar semenjak kemunculan Islam di muka bumi. Maka, tidak elok kiranya kita melupakan doktrin dan pengajaran yang baik ini atau bahkan justru berpaling kepada budaya barat yang belum tervalidasi oleh zaman. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa komitmen untuk menjiwai sikap toleransi dan mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat, berorganisasi, berbangsa dan bernegara sehingga seluruh elemen masyarakat merasa aman dan terlindungi di bawah naungan Islam yang mulia ini. Wallahu a’lam bishshawab.
Langganan:
Postingan (Atom)