Sabtu, 28 Januari 2012
Kezaliman adalah kebinasaan
Kezhaliman adalah kebinasaan dan kehancuran
Dr. KH. Ali Akhmadi, MA, alhafizh
Sudah menjadi ketentuan Allah bahwa kezhaliman akan mengantarkan manusia kepada kebinasaan dan kehancuran. Telah banyak contoh dan permisalan yang dapat kita jadikan ibrah dan pelajaran akan akibat kezhaliman yang diperbuat manusia dengan tangan-tangan mereka. Buah dari kedhaliman mereka pun sering kali mengantarkan sang pelaku kepada kesempitan hidup bahkan kebinasaan yang mengakibatkan musnahnya sebuah peradaban.
Kisah pembunuhan Habil oleh Qabil setidaknya dapat membuka mata kita akan perilaku zhalim yang dilakukan oleh anak Adam untuk pertama kalinya di muka bumi sebagaimana dapat kita baca dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah [5] ayat 27-31. Tidak berhenti sampai disini, kisah demi kisah terus-menerus menandai perilaku menyimpang sebagai wujud kezhaliman yang dilakukan oleh anak cucu Adam yang telah dicetak dalam tinta sejarah kelam kehidupan umat manusia. Allah telah menceritakannya dalam berbagai ayat dan surat dalam al-Qur’an sebagai bukti kemahabesaran-Nya, diantaranya; Kaum nabi Nuh yang ditenggelamkan dengan air bah karena enggan menyembah Allah (QS. Al-A’raf [7] : 59-64); Kaum ‘Ad yang dibinasakan dengan datangnya angin topan yang dahsyat yang disertai bunyi gemuruh karena enggan meninggalkan kebiasaan buruk nenek moyang mereka yang menyembah berhala (QS. A’raf [7] : 65-72); Kaum Tsamud dihancurkan dengan dentuman yang menggelegar karena dengan sengaja membunuh onta nabi Shalih (QS. A’raf [7] : 73-79); Kaum Sadum dilenyapkan dari muka bumi dengan hujan batu karena mengingkari fitrah biologisnya (QS. A’raf [7] : 80-84); Kaum Madyan dihancurkan dengan awan panas yang disertai petir sebab mereka gemar mengurangi timbangan dan takaran (QS. A’raf [7] : 85-93); demikian juga Qarun yang ditenggelamkan ke perut bumi karena enggan bersedekah dan menginfakkan hartanya di jalan Allah (QS. Al-Qasas [27] : 76-81); dan juga Firaun beserta balatentaranya yang ditenggelamkan di laut karena enggan menerima kebenaran yang dibawa oleh nabi Musa (QS. Yunus [10] : 75-92)
Bahkan sampai detik ini, ketika kita berbicara masalah kezhaliman, tentunya pikiran kita akan langsung tertuju kepada habit (kebiasaan) yang akhir-akhir ini berjangkit dan mewabah di masyarakat kita. Tentunya hati kita miris menyaksikannya sebab pelakunya boleh jadi saudara-saudara kita atau bahkan diri kita sendiri. Marilah kita simak dan perhatikan perilaku yang saat ini terjadi di sekitar kita, seperti; penggelapan pajak, manipulasi anggaran negara, pengalihan kasus, monopoli perdagangan, jual beli undang-undang, penggelembungan suara hasil pemilu, penghalalan riba, pelegalan judi dan prostitusi, berkembangnya sikap hedonis, individulistis dan sikap kikir serta yang lebih parah lagi adalah munculnya perasaan bangga akan maksiyat yang telah dilakukan dan timbulnya rasa takut akan penerapan syariat Allah dan rasul-Nya.
Disadari atau tidak, inilah bentuk kezhaliman yang saat ini berkembang dan hampir-hampir menjadi budaya. Semua hal ini, ternyata tidak jauh berbeda dengan kezhaliman yang telah dilakukan oleh umat-umat terdahulu, akan tetapi yang berbeda hanyalah kemasan yang membungkusnya saja. Sehingga kita sering tertipu dan terbawa untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut ke tempat yang jauh sampai ke luar negeri yang menghabiskan dana dan energy. Padahal semua bila kita membuka al-Qur’an lantas mempelajarinya, maka akan kita dapati semua solusinya.
Demikianlah dalam setiap periode kehidupan umat manusia, meski Allah telah mengutus seorang rasul atau nabi untuk memberikan peringatan kepada kaumnya akan tetapi diantara kaum tersebut tetap mendustakannya sehingga Allah menurunkan adzab-Nya dari tempat dan pada waktu yang tidak disangka-sangka (QS. A’raf [7] : 93). Bahkan, sampai detik ini, dapat kita saksikan bencana yang silih berganti melanda suatu masyarakat dan komunitas tentunya sebagai buah dari perilaku mereka yang menyimpang, sebagaimana firman Allah :
tygsß ß$|¡xÿø9$# Îû Îhy9ø9$# Ìóst7ø9$#ur $yJÎ/ ôMt6|¡x. Ï÷r& Ĩ$¨Z9$# Nßgs)ÉãÏ9 uÙ÷èt/ Ï%©!$# (#qè=ÏHxå öNßg¯=yès9 tbqãèÅ_öt ÇÍÊÈ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. Ar-Ruum [30] : 41)
Ayat tersebut menggambarkan potret kehidupan manusia yang gemar berbuat kerusakan di muka bumi. Padahal bila kita cermati, bahwa setiap jengkal ciptaan Allah yang berada di tanah, di udara dan di laut adalah merupakan anugrah Allah agar dimanfaatkan demi keberlangsungan hidup manusia. Akan tetapi sudah menjadi tabiat manusia untuk berbuat kerusakan di atas muka bumi ini sebagaimana disampaikan para malaikat kepada Allah sebelum penciptaan manusia (QS. Al-Baqarah [2] : 30). Meski kemudian tidak semua manusia gemar berbuat kerusakan dan senang menumpahkan darah ketika mereka mengikuti petunjuk wahyu yang dibawa oleh para utusan Allah. Akan tetapi bagi mereka yang berpaling dari ketentuan Allah dan lebih senang mengikuti bujuk rayu syetan, maka mereka akan senang memperturutkan hawa nafsu sehingga kezhaliman pun terjadi dan effek dari kezhaliman pun tiada dapat tercegah. Maka dari itu, untuk mengantisipasi perbuatan ini agar tidak terus berkembang, Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya dalam al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya :
xsù (#qßJÎ=ôàs? £`ÍkÏù öNà6|¡àÿRr& 4
“…maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu…,” (QS. At-Taubah [9] : 36)
Dalam hal ini, Rasulullah SAW juga telah mewanti-wanti umatnya untuk berhati-hati dari perbuatan zhalim, sebagaimana sabdanya :
اتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَ أَهْلَكْ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحْلُوا مَحَارِمَهُمْ
”Berhati-hatilah kamu dengan perbuatan zalim karena sesungguhnya kezaliman itu adalah suatu kegelapan di hari kiamat dan berhati-hatilah kamu dengan perbuatan kikir karena kekikiran itu telah menghancurkan orang-orang sebelum kamu sebelum kamu, sehingga mereka menumpahkan darah mereka dan merusak kehormatan mereka .” (HR. Muslim)
Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda :
مَنْ ظَلَمَ قَيْدَ شِبْرٍ مِنَ الأَرْضِ طَوَّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa berbuat menyimpang sejengkal tanah, maka akan disempitkan dengan tujuh bumi di hari kiamat” (HR. Ibn Hibban)
Hakekat Zhalim
Kata “zhalim” merupakan bahasa Arab yang telah umum digunakan dalam masyarakat kita yang bisa dimaknai “meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya” atau dalam kata asalnya yang lain bisa bermakna kejahatan, melampaui batas, atau menyimpang dari keseimbangan.
Dari makna diatas, maka dapat kita gambarkan bahwa zhalim atau yang lebih lazim disebut sebagai kezhaliman merupakan bentuk kemungkaran karena telah berpaling dari ketentuan yang seharusnya berlaku dan dipatuhi oleh umat manusia. Dan dapat dimaknai bahwa pelaku zhalim adalah orang-orang yang tersesat dari jalan kebenaran sebab mereka mendapati diri mereka di dalam kegelapan tanpa cahaya yang menerangi.
Dengan demikian perbuatan zhalim adalah merupakan suatu bentuk perbuatan yang menyebabkan kesengsaraan bagi para pelukanya sebab akan semakin membutakan mata hatinya sehingga akan menjatuhkan nilai dan derajat kemanusiaannya. Disamping itu, effek dari perbuatan zhalim ini juga akan menimbulkan keresahan dan kesengsaraan masyarakat secara luas.
Menghindarkan diri dari berbuat zhalim
Sebagai seorang muslim, tidak pantaslah kiranya untuk menzhalimi diri sendiri karena hal ini bertentangan dengan naluri dan fitrah sebagai seorang manusia yang suci, apalagi di hadapan kita ada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW yang akan mengarahkan hidup kita. Maka dari itu, selagi masih kita masih diberikan kesempatkan menikmati hidup di muka bumi ini sebagai seorang muslim, sudah sepantasnya kita untuk menghindarkan diri dari perbuatan yang akan menyesatkan diri kita dan menyengsarakan orang lain, alangkah baiknya kalau kita melakukan hal-hal berikut ini :
1. Menghindari dari perbuatan yang mengarah kepada perbuatan yang menyekutukan Allah;
2. Meningkatkan ruhiyyah dan ketakwaan kepada Allah, dengan cara meningkatkan intesitas bangun bangun malam dengan bertahajjud, memperbanyak berdzikir, memperbanya tilawah al-Qur’an, mengerjakan shaum sunnah, seperti; puasa senin-kamis, puasa ayyamul baith (puasa tengah bulan);
3. Membudayakan sikap tawadhu‘ (rendah hati) dan berusaha melepaskan diri dari sifat hasad dan hasud, iri dan dengki, bakhil dan pelit serta sifat-sifat tercela yang lain;
4. Berlaku adil kepada sesama, memberikan hak orang lain sesuai haknya, tidak mengurangi timbangan dan takaran dalam urusan bisnis dan perdagangan;
5. Membudayakan infak dan sedekah di pagi hari sebelum kita mulai beraktivitas.
Akhirnya, marilah kita berupaya untuk meningkatkan produktivitas amal shalih selagi kita masih diberikan kesempatan menghirup udara segar di salah satu bulan haram ini. Semoga kita menjadi pribadi yang “shalih dan muslihun lighairihi” yang mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan mampu beramal sesuai dengan tuntunan yang benar, serta mampu bermanfaat bagi orang lain. Amin Yaa Rabbal Alamin.
Menandai Muharram
Buletin An-Nawa No. 1 Tanggal 10 Muharram 1432 H
Menandai Muharram
Bulan Muharram adalah bulan penuh sejarah, bulan dimana Rasulullah SAW mengawali langkah ekspansi dakwah, meninggalkan kampung halaman menuju kota Madinah Al-Munawwarah. Hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW adalah dalang rangka melakukan perbaikan manusia secara menyeluruh “min adh-dhulamâti ila an-nûr” (dari kegelapan menuju zaman yang terang benderang), memperbaiki akhlak, meluruskan Aqidah dan memahamkan umat bahwa kehidupan di dunia adalah sebagai mukadimah dari kehidupan akhirat. Peristiwa hijrah ini telah disepakati oleh umat Muhammad menjadi tonggak perhitungan waktu, yang jatuh pada bulan Muharram yang merupakan salah satu dari 4 bulan mulia sebagaimana difirmankan oleh Allah :
¨bÎ) no£Ïã Íqåk¶9$# yZÏã «!$# $oYøO$# u|³tã #\öky Îû É=»tFÅ2 «!$# tPöqt t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# ßöF{$#ur !$pk÷]ÏB îpyèt/ör& ×Pããm 4
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram...” (QS. At-Taubah [9]: 36)
Berdasarkan keterangan firman Allah maka sebagai umat muslim kita sepantasnya untuk memperbanyak amal kebaikan dan memberantas semua perilaku menyimpang yang salah satunya merasa hidup tanpa kehadiran Tuhan atau menganggap bahwa Allah tidak memperhatikan setiap gerak-gerik hamba-Nya sehingga dengan mudahnya melegalkan praktek korupsi, kolusi, manipulasi dan monopoli. Demikianlah, apabila perilaku menyimpang ini terus membudaya tidak mustahil akan melahirkan raja-raja kecil yang gila hormat yang menghalalkan segala cara untuk melanggengkan kedudukannya sehingga tidak ada waktu lagi untuk memperhatikan nasib rakyat dan masyarakatnya yang telah termakan oleh janji-janji manisnya.
Maka dari itu, momen bulan Muharram ini bukan hanya diartikan sebagai berpindah tempat atau dimaknai dengan perayaan atau ritual semata akan tetapi harus dimaknai sebagai berpindahnya perilaku yang buruk menuju perilaku yang sesuai dengan kaidah Islam yang benar, yakni perilaku yang lebih humanism, menyadari bahwa apapun yang melekat dalam diri kita adalah amanat yang akan kita pertanggungjawabkan dan bersyukur atas semua pencapaian yang telah kita raih dengan cara berbagi kepada orang-orang yang kurang beruntung di tengah mesyarakat kita.
Puasa di hari ‘Âsyûra
Dalam bulan Muharram kita sering mendengar istilah ‘Âsyûra yang berarti hari kesepuluh di bulan Muharram. Dalam hal ini, Rasulullah SAW telah memerintahkan para pengikutnya untuk berpuasa pada hari sebelum maupun setelah ‘Âsyûra dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi karena hari ‘Âsyûra merupakan hari dimana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, Bani Israil dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya. Dan sudah menjadi kebiasaan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai syukur mereka kepada Allah atas nikmat tersebut.
Maka, setelah Rasulullah SAW menetap di Madinah, ketika beliau menyaksikan bahwa orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Âsyûra. Beliau pun bertanya kepada mereka tentang hal tersebut. Kemudian orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini adalah hari di mana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah”. Mendengar hal tersebut Rasulullah SAW berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”. (HR Bukhari)
Rasulullah SAW berkata demikian sebab beliau dan para pengikutnya adalah orang-orang yang lebih berhak terhadap para nabi yang terdahulu. Hal ini bersandarkan kepada firman Allah :
إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ
“Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (QS. Ali Imran [3]: 68)
Demikianlah puasa di hari ‘Âsyûra telah menjadi sebuah sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk dilaksanakan oleh para pengikutnya. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abi Qatadah bahwa ketika beliau SAW ditanya tentang hari ‘Âsyûra :
عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سئل عَنْ صِيَامِ يَوْمِ عَاشُوْرَا فقال: يَكْفُرُ السُنَّةَ المَاضِيَةَ
Dari Abu Qatadah ra, bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari ‘Âsyûra. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)
Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW telah berpuasa dihari ‘Âsyûra :
عَنْ ابْنِ عَبَاس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قالأن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صَامَ يَوْمَ عَاشُوْرَا وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Dari Ibnu Abbas ra, "bahwa Rasulullah SAW berpuasa pada hari ‘Âsyûra dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (HR. Muttafaqun ‘Alaihi).
Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda :
لَئِنْ بَقَيْتُ إِلَى قَابِلِ لأَصُو مِنَ التَّاسِعِ
“Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan”. (HR. Muslim)
Demianlah Rasulullah SAW berpuasa ‘Âsyûra dan memerintahkan manusia untuk berpuasa pula pada hari tersebut. Beliau juga memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Âsyûra, dengan berpuasa pada hari kesembilan atau hari kesebelas beriringan dengan puasa pada hari kesepuluh, atau ketiga-tiganya.
Amal sosial bagi anak yatim
Rasulullah SAW adalah seorang rasul yang terlahir sebagai yatim. Beliau telah mengalami pahit getirnya hidup tanpa kasih sayang seorang ayah. Berjuang mempertahankan hidup di tengah-tengah kerasnya kehidupan. Maka dari itu, Allah menguatkan diri beliau agar senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah beliau terima. Salah satu dari bentuk kesyukuran beliau adalah dengan cara mengasihi anak-anak yatim dan menjanjikan tempat yang dekat di surga bagi orang-orang yang mengasuh anak-anak yatim seperti dekatnya jari telunjuk dengan jari tengah, sebagaimana sabda beliau :
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيْمِ فِي الجَنَّةِ هَكَذَا، وَأَشَارَ بِسَبَابَتِهِ وَالوُسْطَى
Aku dan pengasuh anak yatim (kelak) di surga seperti dua jari ini. (HR. Bukhari)
Momentum ‘Âsyûra adalah kesempatan yang sangat berharga bagi umat muslim untuk saling berbagi kepada kaum dhu’afa dan anak-anak yatim yang kekurangan. Minimal hari ini sebagai pemicu amal kebaikan di waktu-waktu mendatang. Sehingga jangan sampai kita melewatkan kesempatan yang berharga ini tanpa sebuah amal kebaikan yang nyata sebagai tanda bukti syukur atas nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita.
Hikmah Muharram
Hidup adalah sebuah perjalanan singkat yang harus dilalui. Suka maupun duka adalah bumbu kehidupan yang akan selalu menyertai, kapan pun dan dimanapun. Tidak ada kehidupan yang berlalu tanpa ada masalah yang bergelayut. Marilah kita bertanya, apakah diri kita telah mampu menepis setiap problematika sehingga keluar sebagai pemenangnya atau justru malah terjerembab ke dalamnya sehingga tiada lagi mampu bangkit daripadanya.
Masih ada waktu yang tersisa. Masih ada harapan-harapan lain yang belum kita kerjakan. Bila tahun lalu telah gagal, tidak salahnya kita kembali mencoba. Bila tahun kemarin telah hancur binasa tidak ada salahnya jika tahun ini, membuka kembali lembaran-lembaran sejarah baru. Momentum Muharram inilah waktu untuk merefleksi diri, dan membangun prestasi. Adapun langkah-langkah yang dapat kita lakukan adalah sebagai berikut :
1- Memperhatikan diri pribadi agar selalu menjadi pribadi yang berkualitas “shalih” dalam pikirannya, pemahamannya, keyakinannya, ibadahnya dan akhlaknya.
Mengaplikasikan makna hijrah bukan sebatas ritual atau perayaan semata akan tetapi lebih kepada perubahan cara berfikir yang positif, sikap dinamis dan perilaku innovative yang bersandarkan kepada tata cara ibadah yang benar berdasarkan tuntunan Allah dan rasul-Nya.
2. Selalu memperhatikan waktu, umur dan kesempatan.
Semua perbuatan tidak dapat dipisahkan dari unsur waktu. Semua ibadah kita, baik yang mahdhah (wajib) ataupun yang sunnah dan lainnya harus menggiring waktu kepada terciptanya produktivitas amal dan pahala.
3. Senantiasa menyadari bahwa manusia sebagai makhluk “kolektif”
Setiap kebersamaan harus dapat memberikan sumbangsih “nâfiun lighairihi” sebagai bukti bahwa diri sebaik-baiknya diri diantara makhluk Allah yang lain. Kolektivitas berarti bersatu untuk maju, bahu-membahu membangun peradaban Islam yang sistematis dan terpadu serta berupaya sekuat tenaga mengangkat derajat umat Muslim menjadi umat yang terdepan dalam kuantitas, kualitas dan mutu. Tidak menjadi pribadi yang “gedé ambeg”, “gampang mutung, dan mudah “futhur” atas semua keputusan koligial yang telah disepakati.
4. Amal sosial pada bulan Muharram adalah menyantuni anak yatim.
Muharram hanyalah sebuah pemicu, dalam rangka meledakkan kebaikan dan amal sosial kepada sesama; menyantuni anak yatim, memberi makan orang-orang miskin, menyantuni kaum jompo yang tersia-siakan, dan mengembalikan arah yang telah terlanjur salah langkah. Untuk kemudian ditindak lanjuti dalam kehidupan mendatang.
Bumi Allah luas, dimanapun dan kapanpun kita bisa menciptakan produktivitas yang akan membawa kebaikan dan kemaslahatan bagi masyarakat. Sebagai mukmin, kita harus bersungguh-sungguh mencari kerindhaan Allah, untuk mendapatkan kedudukan yang dekat kepada-Nya dan memperoleh kemuliaan disisi-Nya. Amin Yaa Rabbal alamin.
Jumat, 06 Januari 2012
NIAT adalah pondasi dan penentu arah Kehidupan
NIAT sebagai pondasi dan penentu arah kehidupan
Niat adalah amaliah yang sangat penting dan menentukan di dalam kesuksesan sebuah aktivitas, baik yang berkenaan dengan aktivitas (mu'amalah) duniawi atau yang berhubungan dengan ibadah (ukhrawi) kepada Allah. Niat dapat membedakan satu kegiatan dari kegiatan lainnya, meninggikan suatu ibadah dari ibadah lainnya serta membedakannya dari kebiasaan. Niat juga dapat menentukan arah atau tujuan suatu kegiatan, ibadah dan kebiasaan, apakah arahnya benar atau salah. Allah berfirman :
!$tBur (#ÿrâÉDé& wÎ) (#rßç6÷èuÏ9 ©!$# tûüÅÁÎ=øèC ã&s! tûïÏe$!$#
“Mereka tidak diperintah kecuali beribadah kepada Allah dengan ikhlas bagi-Nya karena agama…” (QS. Al-Bayyinah [98] : 5)
Niat adalah perbuatan hati dan dasar tegaknya setiap amal. Mustahil orang beramal tanpa niat. Bahkan Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan pahala atas orang yang berniat dengan amal yang shalih sekalipun dia belum mengerjakannya. Rasulullah SAW bersabda :
من هم بحسنة فلم يعمل بها كتبت حسنة..
"Barangsiapa berniat melakukan kebaikan, tapi belum jadi melaksanakan, maka baginya satu kebaikan...". Dan sabdanya:
إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ
“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya”. (HR. Bukhari-Muslim)
Itulah tinggi dan mulianya niat, tentunya hati kita akan merasa miris menyaksikan fenomena kehidupan sosial saat ini, di antara contohnya adalah kebiasaan (budaya), para pencari kerjaan atau pemangku jabatan, pada saat memulai jabatannya ia "membaca niat berbuka puasa". Sehingga, diawal jabatannya, ia berfikir untuk mengembalikan modal yang telah ia habiskan untuk memperoleh jabatannya tersebut. Selanjutnya, sebagai ungkapan terima kasih kepada orang-orang yang telah membantu atau memberikan jabatan kepadanya, ia berusaha menyelamatkan posisi mereka atau mengalihkan proyek-proyek penting kepada mereka. Akhirnya, sepanjang ia berkuasa, tidak sedikitpun terfikir olehnya kemakmuran rakyat yang telah memilih dan memberikan amanah kepadanya.
Ironis memang, tapi itulah realita kehidupan yang harus kita hadapi. Sebagai seorang muslim yang dihadapannya ada al-Qur’an dan as-Sunnah, apakah kita telah berniat secara sempurna “ lillahi ta’ala” karena Allah semata? Ataukah justru kita mencampur adukkan antara niat dengan nafsu sehingga arah kehidupan semakin kabur tanpa makna?
Hakekat Niat
Niat adalah sesuatu yang paling rahasia tempatnya ada di dalam hati, niat selalu berbarengan dengan permulaan suatu kegiatan, misalnya niat wudhu dilakukan dipermulaan wudhu, niat shalat dilakukan di permulaan shalat, nait mandi dilakukan di permulaan mandi dan sekaligus membedakan antara mandi biasa dengan mandi wajib. Secara syar’i niat adalah penyerahan atau menunjukkan kegiatan hanya kepada Allah SWT. Dari sini berarti ada orang yang tidak punya niat dan ada orang yang punya niat, dari yang mempunyai niat ada yang arahnya benar dan ada yang arahnya salah.
Dalam kehidupan ini, manusia mempunyai banyak kegiatan, pekerjaan dan ibadah yang merupakan tugas utamanya kepada Allah, jika ia adalah orang beriman maka harus mempunyai niat bukan hanya sekedar punya tetapi harus benar.
Niat yang menentukan arah
Gambaran niat dan arah kehidupan dapat kita peroleh dalam surat Al-Fatihah yang berdiri diatas beberapa sendi, sebagai berikut :
1. Pengenalan kepada Allah SWT, bahwa Allah adalah pencipta alam semesta dan penguasa hari pembalasan. Meskipun Allah memiliki kekuasaan secara mutlak terhadap semua makhluk-Nya akan tetapi Allah adalah dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang. Makanya segala puji hanya milik Allah SWT.
ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOÏm§9$# ÇÊÈ ßôJysø9$# ¬! Å_Uu úüÏJn=»yèø9$# ÇËÈ Ç`»uH÷q§9$# ÉOÏm§9$# ÇÌÈ
Niat dan arah kehidupan harus dibangun diatas tauhid, iman dan akidah yang benar. Allah sebagai Rabbun (pencipta dan pengatur) dari sini sifat rububiyyah hanya milik Allah dan milkiyyah atau kepemilikan juga milik Allah. Dan Allah mempunyai sifat-sifat yang sempurna dan mulia seperti Ar-Rahman, Ar-Rahiim, maha pengasih dan penyayang tauhid asma dan sifat.
2. Pengakuan bahwasanya hanya kepada Allah semua orang beribadah dan hanya kepada-Nya semua permintaan ditujukan.
x$ Î) ßç7÷ètR y$ Î)ur ÚúüÏètGó¡nS ÇÎÈ
Tauhid ubudiyyah dan uluhiyyah ibadah mencakup segala macam kegiatan baik perkataan maupun pekerjaan anggota tubuh lainnya yang diarahkan untuk mencari ridha Allah SWT. sebagaimana firman-Nya :
ö@è% ¨bÎ) ÎAx|¹ Å5Ý¡èSur y$uøtxCur ÎA$yJtBur ¬! Éb>u tûüÏHs>»yèø9$# ÇÊÏËÈ
“Katakan: sesungguhnya shalatku, aktivitasku, hidupku dan matiku, hanya untuk Allah tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am [6] : 162).
Maka dari itu, permintaan atau doa harus ditujukan hanya kepada Allah semata. Allah maha mengabulkan doa permintaan yang ditujukan kepada makhluk Allah baik benda mati, hidup, nyata, atau gaib dengan penuh pengetahuan dan kesadaran itu termasuk arah hidup yang salah karena semuanya adalah makhluk ciptaan Allah SWT. Demikianlah janji Allah, bagi hamba-hamba-Nya yang meminta kecuali Dia-lah yang akan mengabulkan doa-doa yang dipanjatkan hanya kepada-Nya :
tA$s%ur ãNà6/u þÎTqãã÷$# ó=ÉftGór& ö/ä3s9 4
3. Penuh semangat untuk mencari jalan keridhaan Allah yang benar, shiraatal mustaqiim.
xÞºuÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgøn=tã Îöxî ÅUqàÒøóyJø9$# óOÎgøn=tæ wur tûüÏj9!$Ò9$# ÇÐÈ
Arah yang benar inilah arah yang di tempuh dan dijalani mereka yang diberi nikmat oleh Allah SWT dari para Nabi, syuhada (orang-orang yang mati di jalan Allah), shidiqqiin (orang-orang yang benar) dan shalihiin (orang-orang yang shalih). Dan dengan mereka kita diperintah agar mencontoh dan mengikutinya. Sebaliknya, kita dituntut untuk menghindari arah kehidupan yang menyimpang dari yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan telah ditetapkan dalam al-Qur’an.
Selanjutnya, jika kita amati dalam realita kehidupan ini, maka kita akan mendapatkan kedua arah tersebut ada dan nampak bahkan aktif dalam membangun jaringan serta menjalankan program-programnya sehingga tidak sedikit orang yang terkecoh dengan fenomena. Sesuatu yang sebenarnya termasuk arah yang salah namun karena semangat untuk mendapatkan tempat dan peran di muka bumi maka segala macam cara ditempuh hingga bisa menyembunyikan aslinya dan tertariklah kebanyakan orang yang kurang mengetahui. Dalam hubungan ini maka dalam menentukan arah kehidupan banyak syira’ (pertarungan) dan tarik ulur, disinilah pentingnya membangun niat dan arah kehidupan yang benar. Wallahu a’lam bishshawab.
Senin, 26 Desember 2011
Belajar di Kampung
SD Pesagi.
( Sekolah Dasar) di Desa Pesagi, selesai pada tahun 1977. Orang- orang yang ada dalam ingatan dan punya prngaruh di SD adalah pak Parno (kepala sekolah), Bu Umi Kulsum (gutu Matematika) dan Bu Indasah (guru Agama). Pada saat ujian akhir dilaksanakan di SD Desa Boloagung, kira kira 4 KM dari Pesagi, ibu Inayah adalah kepala rayon, dan nama serta tandatangannya ada dalam ijazah SD. Masa SD sangat Indah, berangkat sekolah searing tidak pakai sepatu karena tidak punya atau jalan becek (Jeblok), pulang sekolah cari makanan Kambing dan juga sapi di lain waktu atau tahun. Begitu di alami selama bersama keluarga dan kedua orang tua tercinta ( Maskad, Mutmainah/Mainah, Maryati/Mariyatul Qibtiyah, Saudah, Mahmudah, Badrudin) sampai saat ini mereka semua masih hidup, semoga Allah Berikan Keberkahan dan kesuksesan serta kebahagiaan.
MI (Madrasah Ibtidaiyyah)
Belajar setingkat SD tapi tekanannya tentang keagamaan, Bertempat di masjid Pesagi. Seorang yang di anggap punya pengalaman pada saat itu adaalah Sawab, begitu sebutan popularnya, hampir semua warga menggatungkan ide dan putusan kususnya tentang keagamaan dan kemasyarakatan kepadanya. Dia seorang guru agama negeri (PNS) di anggap hebat pada masanya.
Langgar/Musolla
Adalah tempat belajar al Qur'an dan belajar solat, atau praktek keagamaan. Umumnya masyarakat kampung dan kurang mampu, sebagian mereka cukup meletakkan anak mereka ke Langgar Untuk menimba ilmu, dan banyak mereka juga dengan sekolah formal.
Saya menghabiskan malam di Langgar selama bersama orang tua, biasanya di malam hari, jadi pagi sekolah, siang bantu orang tua dan malam di Langgar. Alhamdulillah saudara orang tua semua memangku Langgar (Kiyai Ndeso/Desa). (bersambung)
Selasa, 20 Desember 2011
حقوق الأولاد وواجباتهم في الاسلام
حقوق الأولاد وواجباتهم في الاسلام
في الباب سبعة مباحث:
الاول: من البداية الاهتمام على احتياج الأولاد لبنا الاسرة
الثاني: إعطاء الحرية لهم كانسان
الثالث: حقوقهم الخلقية والحكمية
الرابع: اهليتهم. قبل الولادة وبعدها وما يترتب من اعمالهم
الخامس: إحسان التربية والبناء لهم
السادس: الرعاية التامة الجسدية والمعنوية
السابع: المحافظة على مصالحهم الحينية والمستقبلية
Toleransi
Toleransi
Alam ini dengan seluruh kehidupannya termasuk manusia secara khusus, sejak semula beragam dimensinya. Keanekaragaman inilah yang memunculkan hukum, kaedah, rumusan dan pengetahuan serta manfaat besar dalam kehidupan. Termasuk menjadi pendorong agar manusia menggunakan akalnya untuk berfikir, berkreasi dan berinovasi dalam rangka membangun frame tata kelola kehidupan individu, ber masyarakat dan menjaga kestabilan alam agar tetap bersinergi dengan bagian-bagiannya sehingga tercipta kedamaian dan kemakmuran di muka bumi. Sebagaimana firman-Nya :
ومن آياته خلق السماوات والارض واختلاف ألسنتكم وألوانكم ان في ذلك لايات للعالمين
"Dan termasuk tanda kebesaran-Nya penciptaan langit dan bumi, anekaragam bahasa dan warna kulit, yang demikian sungguh menjadi peringatan bagi alam dan para ilmuwan" (QS. Ar-Ruum [30] : 22).
Selanjutnya, keberagaman bentuk yang diciptakan oleh Allah merupakan sebuah fakta kehidupan yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun dan sampai kapanpun. Sebagaimana Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk laki-laki dan perempuan dengan beragam bangsa dan suku dalam rangka untuk saling berta’aruf, mengenal dan memahami antara satu dengan lainnya sebagai sarana siapakah pelaku sejarah yang kelak akan dimulyakan oleh Allah. Dalam hal ini Allah berfirman :
يا أيها الناس أنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا ان أكرمكم عند الله اتقاكم. ان الله عليم خبير
"Wahai manusia Aku ciptakan kalian dalam bentuk laki-laki dan perempuan, beragam bangsa dan beragam suku agar kalian saling mengenali, sungguh yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sungguh Allah maha dalam dan luas pengetahuan-Nya". (QS. A-Hujurat [49] : 13)
Jadi kehidupan riil, nyata dan lahir adalah beragam, bervariasi dan berbeda beda.
Tapi, adakah keragaman dalam hal fitrah dan ideologi? Lalu bagaimana memanfaatkan fakta kehidupan nyata yang beragam? Serta apa makna toleransi dan di mana wilayahnya?.
Untuk menjawab pertanyaan diatas, coba kita renungkan ayat berikut :
وإذ أخذ ربك من بني ادم من ظهورهم ذريتهم واشهدهم على انفسهم الست بربكم قلوا بلى شهدنا ان تقولوا يوم القيامة أنا كنا عن هذا غافلين
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (QS. Al-A’raf [7] : 172)
Untuk lebih memperkuat ayat diatas alangkah baiknya, kita renungkan hadits Rasulullah SAW berikut ini :
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ.
"Setiap bayi lahir, maka lahir dalam keadaan fitrah, suci dan siap di bentuk..." (HR. Bukhari)
Dalam ayat diatas, dengan tegas Allah menjelaskan bahwa setiap manusia jauh sebelum diciptakan menjadi manusia, di alam ruh Allah telah mengenalkan mereka tentang diriNya sebagai Rob (Tuhan) mereka, dan mereka menyambutnya. Lalu Rasul SAW dalam hadist menjelaskan bahwa setiap bayi yang terlahir di muka bumi ini adalah suci dan telah bersaksi kepada jiwanya bahwa Allah adalah Tuhannya. Inilah hal yang paling essensi dalam kehidupan manusia, meski terlahir dalam berbagai warna kulit dan suku yang beragam akan tetapi pada dasarnya manusia hanya memiliki satu ilah yaitu Allah, jadi tidak ada keragaman dalam masalah fitrah dan akidah. Termasuk syari'at (aturan) samawi (yang bersumber dari wahyu) yang di bawa para Rasul inti akidahnya sama sekali tidak beragam.
Meski cara mengenal Allah dan ritualitas serta sarana berkehidupan dari masa kemasa pasti beragam dan berbeda-beda sebagaimana tersebut. Maka, disinilah wilayah toleransi itu harus ada dan diperlukan sebagai jawaban atas fakta kehidupan yang beragam ini.
Makna Toleransi
Toleransi atau dalam bahasa Arab disebut sebagai as-samahah adalah konsep modern dan moderat وكذلك جعلناكم أمة وسطا (demikianlah..) modern berarti maju, Moderat berarti tengah ( ada sebelah kanan dan ada sebelah kiri), suatu posis strategies dan jelas. Dalam Kehidupan nyata
menggambarkan kemampuan memainkan dan memerankan sikap saling menghormati dan saling bekerjasama di antara kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda baik secara etnis, bahasa, budaya, politik, maupun agama. Toleransi dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama, dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya. Istilah toleransi juga digunakan dengan menggunakan definisi "kelompok" yang lebih luas, misalnya partai politik, orientasi seksual, organisasi masyarakat (ormas), lembaga social masyarakat (LSM), Yayasan, forum, majelis, dan berbagai macam organisasi masyarakat lain yang bersifat massive atau yang berbasis massa.
Islam dan Toleransi
Toleransi dalam Islam adalah otentik dan telah menjadi jati diri. Al-Qur’an telah menjamin bahwa tidak ada paksaan dalam agama (QS. Al-Baqarah [2]: 256). Karena pemaksaan kehendak kepada orang lain untuk mengikuti agama kita adalah bukan sikap Islam. Sejarah peradaban Islam telah menghasilkan kegemilangan sehingga dicatat dalam tinta emas oleh sejarah peradaban dunia sampai hari ini dan insya Allah sampai pada masa yang akan datang.
Menurut ajaran Islam, toleransi bukan saja terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap alam semesta, binatang, dan lingkungan hidup sebab Islam adalah rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Anbiya’ [21] : 107). Dengan makna toleransi yang luas semacam ini, maka toleransi antar-umat beragama dalam Islam memperoleh perhatian penting dan serius. Apalagi toleransi beragama adalah masalah yang menyangkut eksistensi keyakinan manusia terhadap Allah. Masalah toleransi adalah merupakan masalah yang begitu sensitif, primordial, dan mudah membakar konflik sehingga menyedot perhatian besar dari Islam.
Namun, toleransi beragama menurut Islam bukanlah untuk saling melebur dalam keyakinan. Bukan pula untuk saling bertukar keyakinan di antara kelompok-kelompok agama yang berbeda itu. Yang dimaksud dengan toleransi disini adalah dalam tataran interaksi social (hubungan antar sesama). Jadi, ada batas-batas bersama yang boleh dan tidak boleh dilanggar. Inilah esensi toleransi dimana masing-masing pihak diharapkan mampu mengendalikan diri dan menyediakan ruang untuk saling menghormati keunikannya masing-masing tanpa merasa terancam keyakinannya maupun hak-haknya.
Sebagai bukti bahwa Islam telah mengenal toleransi, dapat kita temukan dalam al-Qur’an, surat Al-Kafirun yang merupakan surat Makkiyah, meskipun ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa turun pada periode Madinah. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa, surat Al-Kafirun adalah surat baraa’ (penolakan) terhadap seluruh amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik, dan memerintahkan agar kita ikhlas dalam setiap amal ibadah kita kepada Allah, tanpa ada sedikitpun campuran, baik dalam niat, tujuan maupun bentuk dan tata caranya. Karena setiap bentuk percampuran disini adalah sebuah kesyirikan, yang tertolak secara tegas dalam konsep akidah dan tauhid Islam yang murni.
Meskipun pada dasarnya, kita diperbolehkan untuk berinteraksi dengan orang-orang kafir dalam berbagai bidang kehidupan umum, sebagai contoh ketika kita memiliki orang tua yang memaksa kita untuk menyekutukan Allah, maka sebagai sikap toleran kepada orang tua, kita diajarkan untuk tidak menuruti ajakan tersebut dengan cara yang sopan dan tetap mempergauli keduanya dengan baik (QS. Luqman [31]: 15) atau kita diajarkan untuk tetap berlaku baik dan berbuat adil kepada setiap anak Adam apapun agama dan keyakinannya selama mereka tidak memerangi akidah dan hal-hal yang berkenaan dengan keyakinan kita (QS. Al-Mumtahanah [60]: 8)
Lebih lanjut disebutkan bahwa sebab turunnya (asbabun nuzul) surat Al-Kafirun adalah bahwa, setelah melakukan berbagai upaya untuk menghalang-halangi dakwah Islam, orang-orang kafir Quraisy akhirnya mengajak Rasulullah SAW berkompromi dengan mengajukan tawaran bahwa mereka bersedia menyembah Tuhan-nya Rasulullah SAW selama satu tahun jika Rasulullah SAW juga bersedia ikut menyembah tuhan-tuhan mereka selama satu tahun. Maka Allah sendiri yang langsung menjawab tawaran mereka itu dengan menurunkan surat ini (HR. Ath-Thabrani, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas ra).
Secara umum, surat al-Kafirun memiliki dua kandungan utama. Pertama, ikrar kemurnian tauhid, khususnya tauhid uluhiyah (ibadah). Kedua, ikrar penolakan terhadap semua bentuk dan praktek peribadatan kepada selain Allah, yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Adapun sikap toleransi begitu kental terasa dalam akhir ayat yang mungkin telah juga familiar di telinga kita ”Lakum diinukum waliya diin” (bagimu agamamu dan bagiku agamaku) yang mengandung pengertian bahwa :
1. Secara umum Islam memberikan pengakuan terhadap realita keberadaan agama-agama lain dan penganut-penganutnya;
2. Islam membenarkan kaum muslimin untuk berinteraksi dengan ummat-ummat non muslim itu dalam bidang-bidang kehidupan umum selama tidak menyangkut keyakinan akidah, ritual ibadah dan hukum agama mereka.;
3. Islam memberikan ketegasan sikap ideologis berupa baraa’ (penolakan total) terhadap setiap bentuk kesyirikan akidah, ritual ibadah ataupun hukum, yang terdapat di dalam agama-agama lain;
4. Kaum muslimin dilarang keras ikut-ikutan penganut agama lain dalam keyakinan akidah, ritual ibadah dan ketentuan hukum agama mereka;
Sebagai seorang muslim yang dihadapannya ada al-Qur’an dan as-Sunnah, kurang etis kiranya jika harus pergi jauh-jauh ke luar negeri bila hanya sekedar mencari bahan materi tentang toleransi dan pemecahan masalah konflik yang tengah marak terjadi. Bukankah Allah SWT dengan segala kemahakuasan-Nya telah menurunkan al-Qur’an sebagai pintu solusi?
Demikianlah, toleransi telah menjadi salah satu doktrin Islam yang telah menjadi ciri khas dan kharakteristiknya yang tidak pernah mengajarkan segala bentuk terror dan intimidasi kepada sesama muslim bahkan kepada orang-orang non muslim sekalipun selama mereka tidak memerangi, memusuhi atau mencampuri akidah kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa komitmen untuk menjiwai sikap toleransi dan mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat, berorganisasi, berbangsa dan bernegara sehingga seluruh elemen masyarakat merasa aman dan terlindungi di bawah naungan Islam yang mulia ini. Wallahu a’lam bishshawab.
Kezhaaliman adalah kehancuran dan kebinasaan
Kezhaliman adalah kehancuran dan kebinasaan
Dr. KH. Ali Akhmadi, MA, alhafizh
Sudah menjadi hukum alam (sunnatullah) bahwa kezhaliman akan mengantarkan kepada kehancuran dan kebinasaan. Banyak contoh dalam sejarah yang dapat kita jadikan ibrah dan pelajaran akibat kezhaliman yang dilakukan oleh manusia dengan tangan-tangan mereka. Secara beruntun buah kedhaliman mengantarkan kepada kesempitan hidup, permusuhan antar saudara, lembaga, organisasi hingga perang antar negara, bahkan mengakibatkan musnahnya sebuah bangsa dan peradaban.
Kisah pembunuhan Habil oleh Qabil setidaknya dapat membuka mata kita akan perilaku zhalim yang dilakukan oleh anak Adam untuk pertama kalinya di muka bumi sebagaimana dapat kita baca dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah [5] ayat 27-31. Tidak berhenti sampai disini, kisah demi kisah terus-menerus menandai perilaku menyimpang sebagai wujud kezhaliman yang dilakukan oleh anak cucu Adam yang telah dicetak dalam tinta sejarah kelam kehidupan umat manusia. Allah telah menceritakannya dalam berbagai ayat dan surat dalam al-Qur’an sebagai bukti kemahabesaran-Nya, diantaranya; Kaum nabi Nuh yang ditenggelamkan dengan air bah karena enggan menyembah Allah (QS. Al-A’raf [7] : 59-64); Kaum ‘Ad yang dibinasakan dengan datangnya angin topan yang dahsyat yang disertai bunyi gemuruh karena enggan meninggalkan kebiasaan buruk nenek moyang mereka yang menyembah berhala (QS. A’raf [7] : 65-72); Kaum Tsamud dihancurkan dengan dentuman yang menggelegar karena dengan sengaja membunuh onta nabi Shalih (QS. A’raf [7] : 73-79); Kaum Sadum dilenyapkan dari muka bumi dengan hujan batu karena mengingkari fitrah biologisnya (QS. A’raf [7] : 80-84); Kaum Madyan dihancurkan dengan awan panas yang disertai petir sebab mereka gemar mengurangi timbangan dan takaran (QS. A’raf [7] : 85-93); demikian juga Qarun yang ditenggelamkan ke perut bumi karena enggan bersedekah dan menginfakkan hartanya di jalan Allah (QS. Al-Qasas [27] : 76-81); dan juga Firaun beserta balatentaranya yang ditenggelamkan di laut karena enggan menerima kebenaran yang dibawa oleh nabi Musa (QS. Yunus [10] : 75-92)
Bahkan sampai detik ini, ketika kita berbicara masalah kezhaliman, tentunya pikiran kita akan langsung tertuju kepada habit (kebiasaan) yang akhir-akhir ini berjangkit dan mewabah di masyarakat kita. Tentunya hati kita miris menyaksikannya sebab pelakunya boleh jadi saudara-saudara kita atau bahkan diri kita sendiri. Marilah kita simak dan perhatikan perilaku yang saat ini terjadi di sekitar kita, seperti; penggelapan pajak, manipulasi anggaran negara, pengalihan kasus, monopoli perdagangan, jual beli undang-undang, penggelembungan suara hasil pemilu, penghalalan riba, perbiaran judi dan prostitusi, berkembangnya gaya hidup hedonis, individulistis dan sikap kikir serta yang lebih parah lagi adalah munculnya perasaan bangga akan maksiyat yang telah dilakukan dan timbulnya rasa takut akan penerapan syariat Allah dan rasul-Nya.
Disadari atau tidak, inilah bentuk kezhaliman yang saat ini berkembang dan hampir-hampir menjadi budaya. Semua hal ini, ternyata tidak jauh berbeda dengan kezhaliman yang telah dilakukan oleh umat-umat terdahulu, akan tetapi yang berbeda hanyalah kemasannya saja. Sehingga kita sering tertipu dan terbawa untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut ke tempat yang jauh sampai ke luar negeri yang menghabiskan dana dan energy. Padahal, bila kita jujur dan memahami hakikat tujuan hidup serta mau membuka al-Qur’an lantas mempelajarinya, maka akan kita dapati semua solusinya.
Demikianlah dalam setiap periode kehidupan umat manusia, meski Allah telah mengutus seorang rasul atau nabi untuk memberikan peringatan kepada kaumnya akan tetapi diantara kaum tersebut tetap mendustakannya sehingga Allah menurunkan adzab-Nya dari tempat dan pada waktu yang tidak disangka-sangka (QS. A’raf [7] : 93). Bahkan, sampai detik ini, dapat kita saksikan bencana yang silih berganti melanda suatu masyarakat dan komunitas tentunya sebagai buah dari perilaku mereka yang menyimpang, sebagaimana firman Allah :
tygsß ß$|¡xÿø9$# Îû Îhy9ø9$# Ìóst7ø9$#ur $yJÎ/ ôMt6|¡x. Ï÷r& Ĩ$¨Z9$# Nßgs)ÉãÏ9 uÙ÷èt/ Ï%©!$# (#qè=ÏHxå öNßg¯=yès9 tbqãèÅ_öt ÇÍÊÈ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. Ar-Ruum [30] : 41)
Ayat tersebut menggambarkan potret kehidupan manusia yang gemar berbuat kerusakan di muka bumi. Padahal bila kita cermati, bahwa setiap jengkal ciptaan Allah yang berada di tanah, di udara dan di laut adalah merupakan anugrah Allah agar dimanfaatkan demi keberlangsungan hidup manusia. Akan tetapi sudah menjadi tabiat manusia untuk berbuat kerusakan di atas muka bumi ini sebagaimana disampaikan para malaikat kepada Allah sebelum penciptaan manusia (QS. Al-Baqarah [2] : 30). Meski kemudian tidak semua manusia gemar berbuat kerusakan dan senang menumpahkan darah ketika mereka mengikuti petunjuk wahyu yang dibawa oleh para utusan Allah. Akan tetapi bagi mereka yang berpaling dari ketentuan Allah dan lebih senang mengikuti bujuk rayu syetan, maka mereka akan senang memperturutkan hawa nafsu sehingga kezhaliman pun terjadi dan effek dari kezhaliman pun tiada dapat tercegah. Maka dari itu, untuk mengantisipasi perbuatan ini agar tidak terus berkembang, Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya dalam al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya :
xsù (#qßJÎ=ôàs? £`ÍkÏù öNà6|¡àÿRr& 4
“…maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu…,” (QS. At-Taubah [9] : 36)
Dalam hal ini, Rasulullah SAW juga telah mewanti-wanti umatnya untuk berhati-hati dari perbuatan zhalim, sebagaimana sabdanya :
اتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَ أَهْلَكْ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحْلُوا مَحَارِمَهُمْ
”Berhati-hatilah kamu dengan perbuatan zalim karena sesungguhnya kezaliman itu adalah suatu kegelapan di hari kiamat dan berhati-hatilah kamu dengan perbuatan kikir karena kekikiran itu telah menghancurkan orang-orang sebelum kamu sebelum kamu, sehingga mereka menumpahkan darah mereka dan merusak kehormatan mereka .” (HR. Muslim)
Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda :
مَنْ ظَلَمَ قَيْدَ شِبْرٍ مِنَ الأَرْضِ طَوَّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa berbuat menyimpang sejengkal tanah, maka akan disempitkan dengan tujuh bumi di hari kiamat” (HR. Ibn Hibban)
Hakekat Zhalim
Kata “zhalim” merupakan bahasa Arab yang telah umum digunakan dalam masyarakat kita yang bisa dimaknai “meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya” atau dalam kata asalnya yang lain bisa bermakna kejahatan, melampaui batas, atau menyimpang dari keseimbangan.
Dari makna diatas, maka dapat kita gambarkan bahwa zhalim atau yang lebih lazim disebut sebagai kezhaliman merupakan bentuk kemungkaran karena telah berpaling dari ketentuan yang seharusnya berlaku dan dipatuhi oleh umat manusia. Dan dapat dimaknai bahwa pelaku zhalim adalah orang-orang yang tersesat dari jalan kebenaran sebab mereka mendapati diri mereka di dalam kegelapan tanpa cahaya yang menerangi.
Dengan demikian perbuatan zhalim adalah merupakan suatu bentuk perbuatan yang menyebabkan kesengsaraan bagi para pelukanya sebab akan semakin membutakan mata hatinya sehingga akan menjatuhkan nilai dan derajat kemanusiaannya. Disamping itu, efek dari perbuatan zhalim ini juga akan menimbulkan keresahan dan kesengsaraan masyarakat secara luas.
Menghindarkan diri dari berbuat zhalim
Sebagai seorang muslim, tidak pantaslah kiranya untuk menzhalimi diri sendiri karena hal ini bertentangan dengan naluri dan fitrah sebagai seorang manusia yang suci, apalagi di hadapan kita ada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW yang akan mengarahkan hidup kita. Maka dari itu, selagi masih kita masih diberikan kesempatan menikmati hidup di muka bumi ini sebagai seorang muslim, sudah sepantasnya kita untuk menghindarkan diri dari perbuatan yang akan menyesatkan diri kita dan menyengsarakan orang lain, alangkah baiknya kalau kita melakukan hal-hal berikut ini :
1. Menghindari dari perbuatan yang mengarah kepada perbuatan yang menyekutukan Allah;
2. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah, dengan cara meningkatkan intesitas bangun bangun malam dengan bertahajjud, memperbanyak berdzikir, memperbanya tilawah al-Qur’an, mengerjakan shaum sunnah, seperti; puasa senin-kamis, puasa ayyamul baith (puasa tengah bulan);
3. Membudayakan sikap tawadhu‘ (rendah hati) dan berusaha melepaskan diri dari sifat hasad dan hasud, iri dan dengki, bakhil dan pelit serta sifat-sifat tercela yang lain;
4. Berlaku adil kepada sesama, memberikan hak orang lain sesuai haknya, tidak mengurangi timbangan dan takaran dalam urusan bisnis dan perdagangan;
5. Membudayakan infak dan sedekah di pagi hari sebelum kita mulai beraktivitas.
Akhirnya, marilah kita berupaya untuk meningkatkan produktivitas amal shalih selagi kita masih diberikan kesempatan menghirup udara segar di salah satu bulan haram ini. Semoga kita menjadi pribadi yang “shalih dan muslihun lighairihi” yang mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan mampu beramal sesuai dengan tuntunan yang benar, serta mampu memberi manfaat bagi orang lain. Amin Yaa Rabbal Alamin.
Langganan:
Postingan (Atom)